Penanaman di Areal Restorasi.
Penanaman merupaksn salah satu upaya nyata dalam menjaga keseimbangan ekosistem yang ada di Taman Nasional Way Kambas. Pada saat pelaksanaan praktik umum, kami berkesempatan untuk sedikit berpartisipasi dan memberikan kenang-kenangan ke pada Taman Nasional Way Kambas. Kenang-kenangan tersebut yaitu dengan menanam pohon Memang tidak banyak jumlah pohon yang ditanam oleh kami, namun mudah-mudahan pohon yang kami tanam dapat memberikan manfaat yang banyak bagi ekosisitem di TNWK.
Berikut beberapa foto penanaman yang kami lakukan:
Selasa, 09 April 2013
Minggu, 31 Maret 2013
PENGAMATAN BURUNG DI TAHURA WAN ABDUL RACHMAN
Pentingnya Burung Bagi Kehidupan
Burung merupakan satwa liar yang memiliki kemampuan
hidup di hampir semua tipe habitat, dari kutub sampai gurun, dari hutan
kornifer sampai hutan tropis, dari sungai, rawa-rawa sampai lautan. Burung
mempunyai mobilitas yang tinggi dan kemampuan beradaptasi terhadap berbagai
tipe habitat yang luas (Welty 1982).
Hutan alam yang terdiri atas berbagai jenis vegetasi dan strata memiliki
keanekaragaman jenis yang tinggi (Gani, 1993).
Hutan tanaman yang hanya berupa tegakan vegetasi tanaman sejenis
(monokultur), dan adanya dominasi campur tangan manusia di dalamnya menyebabkan
keadaan tingkat keanekaragaman jenis yang rendah dan ketidakseimbangan keadaan
factor-faktor lingkungan di hutan tanaman (Djunaidah 1999).
Burung adalah bagian dari keanekaragaman hayati yang
harus dijaga kelestariannya dari kepunahan maupun penurunan keanekaragaman
jenisnya. Burung memiliki banyak manfaat
dan fungsi bagi manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat dan fungsi burung secara garis besar
dapat digolongkan dalam nilai budaya, estetika, ekologis, ilmu pengetahuan dan
ekonomis (yuda 1995). Alikodra (2002)dan
Ontario et al. (1990) menambahkan
bahwa burung memiliki peranan penting dari segi penelitian, penidikan, dan
untuk kepentingan rekreasi dan pariwisata.
Manfaat dan fungsi burung yang begitu besar bagi
kehidupan manusia, sehingga mendorong upaya untuk menjaga kelstarian dan
keanekaragamannya. Namun akhir-akhir ini
kehidupan burung semakin lama semakin terdesak yang sbagian besar disebabkan
oleh manusia dengan merusak dan mengubah fungsi habitat burung. Kegiatan tersebut antara lain dengan konversi
lahan untuk pemuiman, peternakan, perkebunan, perindustrian, pertambangan dan
lainnya. Kegiatan-kegiatan tersebut
membutuhkan lahan yang cukup luas, sehingga habitat burung semakin berkurang
denan bertambahnya kegiatan yang dilakukan manusia untk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Kegiatan-kegiatan tersebut
dapat menyebabkan kepunahan yang melampaui tingkat pengebaliannya (primack et al. 1998).
Rabu, 27 Maret 2013
Penggiringan Gajah ke Dalam Kawasan TNWK
Pengalaman Pertama Mengejar dan Dikejar Gajah Liar
Pada
Hari Kamis 2 Agustus 2012 jam 18.00 terdapat informasi bahwa gajah akan
dikeluarkan ke jalan lintas sumatera melalui salah satu desa yang ada disekitar
Taman Nasional Way Kambas. Pada pukul 22.30 WIB terdapat kabar bahwa gajah
telah digiring keluar oleh masyarakat, setelah sebelumnya upaya pencegahan
tidak berhasil dikarenakan jumlah masa yang mencapai ratusan masa. Seluruh
personil Resort Margahayu menuju lokasi penggiringan gajah. Hal yang dapat
dilakukan adalah pemantauan keadaan dan upaa pencegahan semampunya, hhal ini
dikarenakan jumlah personil yang kalah jumlah dan emosi masa yang telah
memuncak. Kegiatan pemantauan dilaksanakan sampai pukul 03.00 WIB, untuk
melaksanakan makan sahur dan sholat Subuh. Setelah beristirhat petugas
melakukan pemantauan kembali dan mengiring gajah masuk ke kawasan hutan. Upaya
ini dilaksanakan hingga sore hari, upaya ini mengalami kesulitan dikarenakan
sejumlah masyarakat tidak memperbolekan gajah melintasi perladangannya. Hal ini
yang menyebabkan penggirigan berjalan lama. Sore hari posisi gajah telah
mendekati kawasan hutan namun masa yang pada malam sebelumnya menggiring gajah
keluar pada malam ini dengan jumlah masa yang lebih banyak melakukan
penggiringn ulang.
Hingga pukul 23.00 WIB masih terjadi
penggiringan dan perseteruan baik antara masa penggiring gajah, masyarakat yang
memiliki areal perladangan dan petugas Taman Nasional Way Kambas. Sehingga pada
pukul 23.00 dilakukan diskusi antara Pihak Taman Nasional, Kapolsek, Koramil,
Camat dan Pam Swakarsa utuk menentukan cara penggiringan gajah ke dalam kawasan
hutan. Sebelumnya bapak Camat telah bernegosiasi dengan pemilik lahan dan telah
mendapatkan iin untuk perladangannya dilintasi gajah. Setelah diskusi semua
personel bergerak untuk menggiring gajah. Penggiringan masih mengalami
perlawanan oleh masa sehingga pada pukul 01.30 petugas ditarik mundur untuk
meredam amarah masa. Dan setelah Solat subuh didapatkan kabar bahwa gajah telah memasuki kawasan hutan. Jumlah gajah liar yang
digiring kurang lebih 25 ekor yang terdir dari gajah induk betina dan anakan
gajah.
Konflik Gajah kali ini di akhiri dengan
pembahasan bersama dari berbgai pihak yaitu Taman Nasional Way Kambas,
Mayarakat Daerah Penyangga, Kepala Desa , Camat, Dinas Kehutanan Kab. Lampung
Timur, dan Pemerintah Daerah Lampung Timur (Sekertaris Daerah). Hasil pertemuan
adalah masyarakat berharap dibuatkannya kanal di areal Taman Nasional yang
dipisahkan oleh rawa berbatasan dengan Desa .
Langganan:
Postingan (Atom)